Sabtu, 20 November 2010

gempa

Padang - Sumber gempa besar ternyata tidak hanya patahan Sumatera dan zona subduksi di bawah Kepulauan Mentawai yang bisa menimbulkan gempa megathrust, tetapi ada sumber gempa yang disebut di patahan Mentawai.


Pakar gempa Danny Hilman Natawijadja dari Laboratorium Gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sudah 20 tahun meneliti gempa di Mentawai, mengatakan ancaman gempa tidak hanya dari zona subduksi, tetapi ternyata ada patahan Mentawai. Patahan Mentawai ini miring ke arah barat mengarah ke Padang dan dinamakan Mentawai banckthrust. Letaknya melintang antara pulau Siberiut dan Pulau Sipora dan posisinya lebih dekat dengan Siberut.

“Sumber gempa ada yang terbaru, ada Patahan Mentawai, baru seminggu lalu kita teliti. Patahan itu sebenarnya sudah lama ada, cuma dulu kita masih spekulasi patahan ini aktif atau tidak, ternyata setelah diteliti itu patahan aktif,” kata Danny Hilman Natawidjaya di Padang, Selasa (12/10).

Danny mengatakan ia memperoleh bukti dari koral mikroatol yang merekam gerakan air laut karena tidak ada catatan dari sumber sejarah.
"Dari satu koral kita tahu pernah terjadi gempa besar dengan magnitude 7,9 berdasarkan data koral yang terangkat 3 meter, gempa dengan magnitude 8,5 juga pernah terjadi berdasarkan data koral mikroatol yang terangkat 6 meter pada 6.500 sampai 8.000 tahun lalu. Tsumani yang dihasilkan dari gempa ini hanya perlu waktu 5 sampai 10 menit,” kata Danny Hilman Natawidjaya.

Ia mengatakan gempa besar di Mentawai yang terjadi April 2005 dan Agustus 2009 ternyata tidak bersumber dari zona subduksi seperti perkiraan selama ini, tapi bersumber dari patahan Mentawai. Namun frekuensi gempa yang dihasilkan dari patahan Mentawai ini jarang, bisa ratusan bahkan hingga ribuan tahun.

“Mematikan, tetapi jarang terjadi, mudah-mudahan tidak keluar bersamaan dengan gempa megathrust. Kedua patahan ini saling berkomunikasi dan bergantian. Yang perlu diwaspadai tetap gempa megathrust di zona subduksi di bawah Kepulauan Mentawai,” kata Danny.

Bila terjadi bersamaan, Danny menggambarkan seperti tsunami di Aceh. “Memang itu sudah terjadi di Aceh, ada gempa besar, kita modelkan, tapi gelombang tsunaminya seharusnya tidak sebesar itu seperti di Calang sampai 30 meter, ternyata itu karena ada gempa ikutan,” kata Danny Hilman.
Ia mengatakan penelitian tentang Patahan Mentawai ini harus terus dilakukan karena belum komplit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar